Overly Overworked

Sifat overthiking gue sedang berada di level 3. Jadi di postingan kali ini gue mau mengaku bahwa gue sudah lelah secara fisik dan mental menghadapi beban kerja di masa pandemi ini.

Sebenarnya gue sudah merasa overworked dari beberapa bulan lalu, di saat gue diminta untuk melakukan satu task baru yang sebenarnya bukan di ranah pekerjaan gue. Ya namananya sedang pandemi, jadilah satu tim displit di dua lokasi yang berbeda, dan gue yang dikorbankan untuk nambah kerjaan lagi, jaga-jaga kalau lokasi lain dilockdown. Surprisingly, gue bertahan dan gue menganggap gue mempunyai satu skill baru.

Kemudian datanglah Delta variant ini ke Indonesia. Banyak teman satu divisi yang terinfeksi termasuk lima dari tujuh orang di unit gue. Gue merasa panik, anxious, helpless dan powerless. Gue ga tau kapan keadaan seperti ini akan berlangsung.

Seminggu berlalu gue merasa fine dan achieved dalam artian gue merasa hebat karena gue bisa melaluinya. Dua minggu berlalu, gue merasa sifat determined gue sangat berperan dalam proses penyelesaian tugas harian. Tapi di minggu ketiga, gue merasa berat. Gue merasa tidak mungkin bertahan dengan posisi seperti ini untuk waktu yang lebih lama lagi. Semua gejala-gejala stress muncul ke permukaan. Sakit kepala, nyeri sendi, asam lambung naik, muntah-muntah, dan diare terjadi pada waktu sebulan. Padahal gue bukan tipe yang makannya ga bener, dan memang ketika gue stress, gue akan muntah-muntah ga jelas.


Kemudian dari merasa hebat, gue jadi merasa bersalah dengan diri sendiri. Entah apa yang gue kejar, tapi gue hanya ingin semuanya selesai dan berjalan dengan normal. Terima kasih ke sifat controling aku yang kadang ga baik. Gue selalu “meneriaki” diri sendiri untuk menjadi kuat, cepat dan presisi dalam hal bekerja. Namun setelah gue merasakan sebulan bekerja sendiri ternyata hal itu ga baik buat gue. Gue jadi stress, gampang marah, mudah tersinggung dan tidur gue terganggu.

Ketika gue mencari pelarian dalam berlari di treadmill pun gue masih diteriaki oleh pikiran gue sendiri bahwa gue harus mencapai jarak 5K dalam waktu kurang dari 40 menit. Memang baik ketika pikiran sedang baik-baik saja. Tapi ketika kita sudah terbebani dengan pekerjaan yang terlalu banyak, maka pelarian ini hanya jadi beban tambahan di kepala. Gue terlalu kemakan pemikiran untuk stay strong dalam hal apapun. Padahal kita boleh kok merasa rapuh dan kosong. Karena memang itulah sifat manusia. Tapi sayangnya, gue melupakan poin itu.

Hal ini sangat berbeda dengan diri gue semasa kuliah. Gue dulu bukan anak yang ambisius dan malah sebaliknya, santai tanpa beban. Memang gue santai, tapi gue punya goals yang ingin gue capai dengan cara santai. Dalam hal mengubah pola hidup pun juga seperti itu.

Di saat gue diuji dengan kesehatan gue yang ga sehat-sehat banget pada masa itu, gue masih bisa bercanda. Gue masih bisa melihat sisi lucu dari sebuah musibah. Bahkan gue menjadikan itu sebagai momen untuk beristirahat. Entah apa yang bikin gue berubah, sekarang ketika gue tau gue butuh istirahat, gue ga langsung istirahat. Gue malah bargaining dengan diri sendiri untuk push the limit. Hasilnya? Cuti gue masih sisa 24 hari. Hahaha.

Di poin ini, gue akui gue sudah terlalu keras dengan diri sendiri sampai-sampai gue ga tau kapan harus berhenti. Memang gue selalu bilang gue sayang diri sendiri. Tapi nyatanya, hal yang gue lakukan selama ini bukan cerminan self-love yang sebenarnya. Terlalu banyak batas-batas yang gue lampaui sampai gue hampir melewati batas kewarasan yang dulu sudah gue atur.

Paduan antara sifat ambisius, control freak sangatlah tidak bagus dalam situasi seperti ini. Gue rindu dengan diri gue di masa kuliah yang santai dan apa adanya. Diri gue yang kuat di dalam tapi tau batasan. Semoga titik ini adalah titik balik buat gue untuk kembali ke hidup yang seimbang. 

Comments

Popular posts from this blog

Akhirnya ku S.Ant(ai) (Part 2)

From Jatiasih to Jatinangor