Posts

Spoiler Alert: It's going to feel worse before it gets better

Saat ini gue sedang merasakan ada lightbulb di atas kepala gue, semacam aha moment gitu deh. Jadi ceritanya gue sedang berproses untuk mengenal diri gue dan mengurai si benang kusut di kepala gue. Gue sudah memulai konseling sekitar satu bulan lalu dan gue tiba-tiba merasa berat, kusut dan kaget betapa banyak emosi yang gue rasakan selama sehari. Psikolog gue memberi PR untuk mencatat peristiwa dan emosi yang gue rasakan selama satu hari. Setelah tiga minggu gue lakukan itu ternyata banyak sekali emosi dari peristiwa-peristiwa "receh" di kehidupan gue yang sangat monoton. Diriku pun terkejut, gue kira emosi gue cuma senang, sedih atau marah pada satu waktu dan peristiwa. Tapi otak manusia tidak sesimpel itu, bestie .  Si lightbulb ini muncul tadi pagi ketika gue mikir "kok rasanya gini amat ya, padahal kan saya mau merasa lebih baik, kok saya jadi merasa zonk gini?" . Kemudian sisi curious gue muncul dan googling deh tuh. Ternyata gue tidak sendirian dan perasaan i...

Long Story Short, I Survived

Image
Setelah gue ngomel selama pandemi yaitu kurang lebih dua tahun, akhirnya gue memutuskan untuk mengurangi intensitas ngomel. Dimulai dari hal-hal yang terjadi di luar rencana, sehingga membuat gue merasa kehilangan kontrol dengan hidup sendiri. Gue pun akhirnya mulai merelakan, melepaskan dan mengikhlaskan apa yang terjadi dengan gue. *bingung. Intinya, ku mau pasrah.  Hidup gue dari 2020 ke 2022 itu ajaib. Maksud dari ajaib di sini adalah banyak sekali perubahan yang gue alami. Mulai dari karir, sosial, kesehatan fisik maupun mental. Saking banyaknya perubahan, gue jadi mesti bisa adaptasi dengan cepat ga ada lagi tuh waktu buat mikirin hal-hal ga penting. Semacam yang sat-set-sat-set gitu lah hidupku ini.  Seperti yang pernah gue tulis sebelumya, pandemi ini secara langsung dan ga langsung mempengaruhi gue sih. Di 2020 perubahan terbesar terjadi di kondisi kesehatan fisik gue. Gue menjalani pola hidup sehat dan berhasil menurunkan kurang lebih 17 Kilogram *brb sombong. Gue ju...

Overly Overworked

Image
Sifat overthiking gue sedang berada di level 3. Jadi di postingan kali ini gue mau mengaku bahwa gue sudah lelah secara fisik dan mental menghadapi beban kerja di masa pandemi ini. Sebenarnya gue sudah merasa overworked dari beberapa bulan lalu, di saat gue diminta untuk melakukan satu task baru yang sebenarnya bukan di ranah pekerjaan gue. Ya namananya sedang pandemi, jadilah satu tim displit di dua lokasi yang berbeda, dan gue yang dikorbankan untuk nambah kerjaan lagi, jaga-jaga kalau lokasi lain dilockdown. Surprisingly, gue bertahan dan gue menganggap gue mempunyai satu skill baru. Kemudian datanglah Delta variant ini ke Indonesia. Banyak teman satu divisi yang terinfeksi termasuk lima dari tujuh orang di unit gue. Gue merasa panik, anxious, helpless dan powerless. Gue ga tau kapan keadaan seperti ini akan berlangsung. Seminggu berlalu gue merasa fine dan achieved dalam artian gue merasa hebat karena gue bisa melaluinya. Dua minggu berlalu, gue merasa sifat determined gue sa...

A quarantine-life crisis.

Image
Selamat pagi, siang, sore atau pun malam, kapanpun kamu baca blog ini. Gue Kembali setelah hampir satu tahun tidak ngepost apapun di blog ini karena, well, you know, having 9 to 5 job for 5 days a week is slowly killing my creativity *curhat. Pada intinya gue ga ada ide atau punya ide tapi ga tau mau dituliskan ke arah mana. Tidak jauh dari pembahasan hampir setahun yang lalu, mungkin saat ini adalah saat yang tepat untuk mengaktualisasi diri karena dunia sedang beristirahat dan banyak sekali hal-hal yang ga kepikiran bisa terjadi di saat ini. Pertama-tama, karena adanya wabah Covid-19 banyaaaaaak banget hal yang berubah dan kita dipaksa harus bertahan apapun caraya. Kalau tahun lalu gue hanya galau tentang kemana hidup gue akan mengarah, tahun ini sama aja sih, cuma bedanya di quarantine life crisis ini banyak hal-hal yang real yang harus dipikirkan. Let’s say, saat ini banyak banget orang-orang yang kehilangan pekerjaan. Untuk mereka yang masih kerja, mungkin gaji mereka dipotong ...

Introducing: The Quarter Life Crisis

Image
Assalamualaikum, gue balik lagi dengan ide yang  fresh  dari otak gue yang kadang suka lupa lepas helm Go-Jek. Harus diakui, hidup itu kadang emang suka bertingkah, ada aja masalah yang menghampiri. Entah itu masalah dengan teman, keluarga atau masalah yang kecil tapi rese seperti  paper jam di printer kantor. Semakin dewasa, masalah akan semakin beragam. Hidup bukannya tambah mudah eh kok malah tambah susah? :( Karena manusia itu rumit, begitu juga dengan hidup. Ga cuma ekonomi doang yang kiris, hidup pun ada masa-masa krisis, contohnya quarter life crisis dan midlife crisis . Memasuki umur gue yang sudah seperempat abad, tentu banyak ketidakpuasan ke diri gue. Ditambah lagi dengan teman baru gue yang selalu menghantui dan mempertanyakan keputusan sekecil apapun yang gue buat yang mungkin akan berdampak di masa depan gue. Perkenalkan teman baru gue, quarter life crisis. Di postingan ini dan beberapa postingan ke depan gue akan bercerita bagaimana si quarter life ...

Akhirnya ku S.Ant(ai) (Part 2)

Hallo manteman yang budiman, diriku balik lagi nih. Ku lagi ada di fase yang ga banget, jadi mungkin beberapa tulisan ke depan akan ada tema ini. Karena ku umurnya 25 sekarang *brb berasa tua*. Ku sedang mengalami quarter life crisis. Seperti yang gue janjikan HAMPIR dua tahun yang lalu, gue kali akan melanjutkan si part satu yang sempat tertunda karena ku malas menulis haha. Oke baiklah, udahan iklannya.  Jadi keknya di part satu gue cerita ngapain aja kuliah di antrop. Well , di sini karena gue posisinya sudah dapat kerja, jadi gue akan mengumumkan bahwa lulusan antrop bisa kerja di mana saja, apalagi bank. Karena bank itu baik, dia mau menerima lulusan apa aja hahaha *nangis sambil pake toga*. But seriously , gue kerja di salah satu bank syariah sekarang. Gue sama sekali ga kepikiran buat kerja di bank. Itu tuh kek yang pilihan terakhir banget kalo udah mentok ga dapet kerja di bidang yang sesuai dengan gelar gue. Maklum dulu anaknya masih idealis banget haha. But guess what...

ARRRRRGH

Terkadang aku terdiam dalam sepi dan berbicara pada diriku sendiri seandainya aku langsing, pasti aku sudah punya pacar dari SMA. Tapi apa boleh buat. Timbangan berkata tentang kenyataan. Aku ingin berteriak.   AAAAAAAAAAAAARGH!!! Sekian.