Long Story Short, I Survived

Setelah gue ngomel selama pandemi yaitu kurang lebih dua tahun, akhirnya gue memutuskan untuk mengurangi intensitas ngomel. Dimulai dari hal-hal yang terjadi di luar rencana, sehingga membuat gue merasa kehilangan kontrol dengan hidup sendiri. Gue pun akhirnya mulai merelakan, melepaskan dan mengikhlaskan apa yang terjadi dengan gue. *bingung. Intinya, ku mau pasrah. 

Hidup gue dari 2020 ke 2022 itu ajaib. Maksud dari ajaib di sini adalah banyak sekali perubahan yang gue alami. Mulai dari karir, sosial, kesehatan fisik maupun mental. Saking banyaknya perubahan, gue jadi mesti bisa adaptasi dengan cepat ga ada lagi tuh waktu buat mikirin hal-hal ga penting. Semacam yang sat-set-sat-set gitu lah hidupku ini. 

Seperti yang pernah gue tulis sebelumya, pandemi ini secara langsung dan ga langsung mempengaruhi gue sih. Di 2020 perubahan terbesar terjadi di kondisi kesehatan fisik gue. Gue menjalani pola hidup sehat dan berhasil menurunkan kurang lebih 17 Kilogram *brb sombong. Gue juga sempat direlokasi ke kantor cabang dekat rumah agar operasional tetap berjalan, maklum, gue kerja di bank. huhu. Daripada bingung gue sudah buat poin-poin highlights apa yang terjadi selama dua tahun ini dan bagaimana gue bisa survive.

1. I survived the pandemic

First of all, Alhamdulillah ya Allah aku masih waras melewati pandemi ini. Jujurly, gue rasa semua orang udah hampir gila ga sih? Semacam jargon "stay safe" belum lengkap tanpa lanjutan "stay sane". Percuma baik-baik saja kalau ga waras. Memang betul, ketika gue baca artikel atau denger podcast tentang kesehatan mental, banyak sekali orang yang mengaku betapa beratnya pandemi ini menyiksa mental mereka, belum lagi yang diem-diem aja padahal ingin menangis di dalam hati haha. 
 
Sebagai generasi yang umurnya terbuang sia-sia, gue sih mau ketawa aja deh. Umur gue berasa sat-set, dari 26 tiba-tiba sekarang 28. Untungnya pas umur 25 gue sudah menikmati bagaimana quarter life crisis bermain-main dengan hidup gue jadinya quarter life crisis gue tidak ditambah dengan quarantine life crisis. Dan untungnya tahun 2019 gue puas jalan-jalan, jadi ga gila-gila amat lah pas bulan-bulan pertama PSBB. Lalu datanglah pandemi. Serasa berkedip di umur 25, dan pas melek lagi udah umur 28. Gue kek nya "hey, pelan-pelan dong, gue belom sempet ini-itu".
 
Gue sudah lelah sebenarnya menjelaskan bagaimana covid ini membuat gue merasakan hal-hal yang ga enak, lagi pula gue juga sudah nulis tentang ini, jadi lanjut lah ke poin nomor dua. 
 
 
2. I survived covid twice

Selain umur yang terbuang "sia-sia", banyak sekali hal-hal yang tidak disangka terjadi kepada gue. Gue kena covid pertama kali di bulan Januari 2021 alias gelombang kedua (kalo ga salah). Waktu awal-awal gue masih denial karena gue udah sangat disiplin pake masker, dll. Tapi teteup ya yang namanya kita hidup dengan orang lain pasti mereka juga bawa resiko covid ke rumah. Hasilnya, gue jadi WFH selama sebulan. Syukuri aja deh kalo ini, ku jadi tidak perlu bangun pagi buat berangkat kerja. Selama sebulan gue positif covid, rasanya gue naik roller coaster yang panjang banget ga selesai-selesai. Semua gejala gue rasakan, termasuk kehilangan indra penciuman dan perasa. But the good thing was I didn't loose my sense of humor, ku masih bisa menertawakan keadaan (sambil meratapi nasib tentunya). Covid pertama agak zonk dan spesial karena gue ulang tahun ke 27 ketika isolasi mandiri. Dikasih waktu untuk istirahat, ceunah.
 
Kalian pikir selesai sampai di sana? Tentu tidak, pandemi tidak sesingkat itu bestieeee. Gue kena covid lagi di bulan Februari 2022. Satu hal yang bikin gue ketawa adalah, covid kali ini gue anggap sebagai hadiah ulang tahun ke 28 gue. Jadi gini ceritanya; pas akhir Januari gue ambil cuti tiga hari sebagai hadiah ultah ke diri gue ceunah. Mau rehat dan medical check up, scaling gigi, dll. Di saat itu gue sempat berpikir "apa gue ke Bandung dan Jatinangor yak?". Setelah mikir sana sini, gue memutuskan untuk liat situasi dan kondisi. Ternyataaaaaaaa kakak gue kena covid, Anaknya, suaminya dan ARTnya mengungsi ke rumah gue selama seminggu. Alhasil, rencana gue bubar. Jadinya gue cuti cuma ngebolang di Sumarecon Mall Bekasi setelah medical check up. Cuti gue cuma dipake untuk wisata belanja di Bekasi, alias ngabisin duit di mall. Hahaha.
 
Seminggu setelah gue cuti, satu per satu temen-temen gue kena covid lagi. Di rumah pun sama. Secara bergiliran orang rumah kena, gue pun ikutan. Mulai lah radang bla bla bla. Lalu ku PCR dan positif. Hal pertama yang gue lakukan adalah mikir "NAH KAN BENER GUE COVID (LAGI)". Kemudian Winda pun mengeluarkan jurus "yaudah lah yaaaa", meskipun sempat agak terbawa emosi dan sedihnya, pada covid kali ini, Mbah gue berpulang. Sedih, marah, dan hopeless. Itu yang gue rasakan. Mau ngamuk sampe ngancurin portal depan gang juga situasi ga akan berubah, jadilah aku pasrah. 
 
Setelah dua tahun pademi dan dua kali kena covid, gue dengan bangga memperkenalkan diri sebagai Winda dengan dua gelar yaitu S.Ant dan M.Cov. Long story short, I survived covid TWICE. 
 
3. I survived bank merger. 

Nah ini....kalo ini bikin pusing sih wkwk. Belum cukup diriku dibuat bingung sama pandemi, wacana lama terangkat lagi dan menjadi nyata. Tempat gue bekerja merger dengan dua bank lainnya dan menjadi satu bank syariah besar. Dah lah itu garis besar yang orang awam tau. Tapi yang ga mereka tau adalah orang-orang dari tiga bank itu, atau kurleb 20.000 karyawan pun dibikin pusing. Ya pusing rapat sana-sini ngomongin sistem, produk, bisnis, operasional beserta ini-itunya. Bagaimana dengan Winda? Winda pusing kebagian beres-beres rekening GL yang masih selisih dan mesti nihil dalam waktu yang ditentukan. 

Gue sempat berada di titik yang "ini gimana menyelesaikannya, mana udah ditanya di tempat baru kapan join, bla bla bla". Tapi meskipun begitu gue sangat menikmati challenge nya. Rasanya bisa tau penyebab selisih tuh seneeeeeeng banget. Pusing juga sih disuruh menihilkan rekening yang banyak transaksi di dalamnya dan nominalnya yang bikin aku mupeng. Haha. Udah gitu lagi ada audit eksternal pulak dan auditornya baru, jadi mesti jelasin lagi ke mereka dan mengikuti permintaan mereka. Puyeng? Oh sudah jelas. Belum lagi hal ini terjadi bersamaan dengan puncak covid gelombang kedua featuring varian Delta. Ini loh, yg bikin gue merasa overworked di postingan lalu. 

Ternyata transisi merger tidak hanya terjadi pada aspek kerjaan tapi juga aspek sosial gue. Bahasanya keren ya? Eh tapi ini juga bikin gue anxious loh. I mean, gue yang tidak terlalu pandai dalam mencari teman jelas was-was takut apakah gue bisa berteman dengan orang-orang baru yang sudah punya teman dan circle nya sendiri. Gue butuh waktu beberapa bulan untuk membuka diri dan membentuk ikatan antara gue dan teman-teman di kantor. Hal yang satu ini agak susah karena diriku adalah introvert garis keras dengan first impression jutek. Padahal kalo udah kenal, gue orangnya lucu dan bisa ngasih trivia-trivia ga penting seperti "Negara bagian Florida iklimnya kaya Jakarta loh". Tapi trivia gitu hanya gue keluarkan kalau ada pertanyaan seputar iklim yaaaa... 

Teman-temanku berubah yang tadinya muda-mudi seumuran menjadi bapak-bapak dan adik-adik lucu. Age gap dalam pergaulan kantor ini juga mempengaruhi selera humor dan selera makan gue ternyata. Pokoknya shifted gitu lah kebiasaan-kebiasaan aku di kantor lama. Jujurly ku sempat terbawa romansa kantor lama yang rasanya seperti mantan terindah. Tempat diriku belajar dan bertumbuh selama tiga tahun.

Alhmadulilllah gue sekarang sudah bisa menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang tadinya bikin aku mau nangis sepulang kantor. Long story short, I survived bank merger.

4. I survived a mental breakdance
 
Nah ini dia highlight dari dua tahun ini. Sebenarnya gue sudah merasa tidak 100% baik-baik saja secara emosional dari entah kapan. Mungkin dari masa-masa gue sakit di tahun 2013 - 2015 kali ya, di mana gue merasa zonk banget saat itu. Emosi gue diajak naik roller coaster yang panjang dan bikin pengen muntah huhu. Tidak lupa ada tambahan pandemi, terpisah dari teman-teman, overworked dan quarter life crisis yang terjadi di waktu yang hampir bersamaan.

Kemudian ada momen di mana gue notice "kok gue jadi semakin merasa kesepian?" Gue sering merasa tidak pas berada di mana pun. Semacam "I don't belong anywhere". Perasaan-perasaan itu semakin parah ketika gue mengalami perubahan-perubahan dalam hidup seperti poin-poin yang sudah gue jelaskan di atas. Gue merasa diri gue tidak akan pernah siap menghadapi perubahan yang terjadi secara mendadak karena sejujurnya gue amat sangat suka merencanakan dan akan merasa risih ketika sesuatu tidak terjadi sesuai rencana gue. Tapi Allah punya rencana lain dan rencana-Nya gue yakin jauuuuh lebih baik daripada rencana gue. 

Setelah merasa benang kusut ini semakin kusut, gue melakukan riset, baca-baca dan denger podcast, googling sana-sini terkait kesehatan mental. Pada bulan Ramadhan tahun ini gue merencanakan (nah kan mulai lagi) untuk bikin janji konsul basa-basi dengan psikolog di halodoc. Rencana gue waktu itu adalah gue ambil lembur long weekend dua hari. Tadinya gue mau konsul dulu sebelum lembur di hari kedua. Tapi apa daya, gue sudah mulai kelelahan secara fisik wkwk. Jadinya gue tukeran jadwal lembur dengan partner gue dan menghabiskan hari kedua hanya untuk konsul. Yes, seniat dan se-terencana itu.
 
Gue memberikan waktu dan ruang private ke diri gue buat menjadi rapuh dan terbuka saat itu. Akhirnya gue konsul hari Minggu pagi di kamar Reddoorz dekat kantor. Tenang, gue ga macem-macem kok wkwk. Kemudian tiba lah di waktu konsul. Sebenarnya gue juga ga tau apa keluhan gue. Gue cuma ingin kasih clue ke psikolognya kalau "pikiran saya kusut". Bingung ga tuh?.
 
Gue tidak pernah menyangka bisa sampai tahap ini. Sebenarnya gue tau gue butuh bantuan profesional, cepat atau lambat. Tapi gue ga pernah tau waktunya adalah saat ini. Setelah bertahun-tahun "tenggelam" di pikiran sendiri dan "kabur" dari emosi yang menghampiri, akhirnya gue berusaha untuk muncul ke permukaan dan menghadapi emosi dan ingatan masa lalu yang mengganggu gue. Duileeehhh... 

Sebenarnya perjalanan gue mencari bantuan psikolog beda tipis dengan perlajalanan gue mencari bantuan dokter gizi klinis sih. Di awal memang gue denial bahwa gue baik-baik saja, kemudian ku percaya bahwa ku baik-baik saja. Kemudian gue menjalani pola hidup dan menganut pola pikir yang keliru selama bertahun-tahun. Gue pun tidak mengindahkan saran dari orang lain. Padahal ya, yang bisa melihat masalah di dalam diri kita itu justru orang lain. Kemudian hanya butuh masing-masing satu moment yang bikin gue tersadar. Pertama adalah moment ketika gue cek tekanan darah dan tensi gue 160/110 dan gue tidak merasakan apa-apa. Red flag. Kedua, ketika gue was-was mau pulang kerja dan tiba-tiba ngegas ke teman kerja sampe mereka kaget "wow Winda serem". Itu lah dua momen yang sebenernya receh dan menyadarkanku bahwa gue butuh bantuan. Ternyata ga butuh moment besar untuk sadar bahwa kita harus melakukan perubahan besar. Dan perubahan besar pun bisa dimulai dengan perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Saat ini gue masih rutin konseling dengan psikolog dan gue masih harus banyak belajar untuk mengenali diri gue dan emosi yang ada di dalam diri gue. *apasih. Pokoknya aku masih dan akan terus berproses. Ada satu quote yang gue ingat dan gue pakai saat dulu berproses mengubah pola hidup, Quotenya gini: "Enjoy the process of being a work in progress". (Asli, gue nyari quote ini sampe 10 menitan karena lupa kalimat lengkapnya wkwk). Intinya, nikmati aja prosesnya. Mau itu enak ga enak, ya jalani aja. Nanti ketika sudah sampai tujuan, kita akan lihat ke belakang dan senyum sambil bilang "eh dulu aku bisa ya melakukan ini-itu, padahal awalnya susah lho". Gue merasakan ini setelah benar-benar merubah pola hidup *bragging lagi.

Pastinya, dalam menghadapi mental breakdance ini pun sama seperti itu. Semoga di masa depan gue bisa look back but not in anger ya, alias sudah ikhlas melepaskan dan sudah menjadi pribadi yang lebih baik. Jadi untuk Winda di masa depan, ini adalah catatan masa lalu kamu yang kamu buat setelah naik roller coaster kehidupan selama dua tahun. Selamat, kamu berhasil melewatinya! Kamu keren, kamu hebat, kamu kuat!
 
Akhir kata, LONG STORY SHORT, I SURVIVED! 
 
Alhamdulillah.
 

Comments

Popular posts from this blog

Akhirnya ku S.Ant(ai) (Part 2)

Overly Overworked

From Jatiasih to Jatinangor