Introducing: The Quarter Life Crisis
Assalamualaikum, gue balik lagi dengan ide yang fresh dari otak gue yang kadang suka lupa lepas helm Go-Jek.
Harus diakui, hidup itu kadang emang suka bertingkah, ada aja masalah yang menghampiri. Entah itu masalah dengan teman, keluarga atau masalah yang kecil tapi rese seperti paper jam di printer kantor. Semakin dewasa, masalah akan semakin beragam. Hidup bukannya tambah mudah eh kok malah tambah susah? :(

Karena manusia itu rumit, begitu juga dengan hidup. Ga cuma ekonomi doang yang kiris, hidup pun ada masa-masa krisis, contohnya quarter life crisis dan midlife crisis.
Memasuki umur gue yang sudah seperempat abad, tentu banyak ketidakpuasan ke diri gue. Ditambah lagi dengan teman baru gue yang selalu menghantui dan mempertanyakan keputusan sekecil apapun yang gue buat yang mungkin akan berdampak di masa depan gue. Perkenalkan teman baru gue, quarter life crisis. Di postingan ini dan beberapa postingan ke depan gue akan bercerita bagaimana si quarter life crisis ini perlahan-lahan masuk ke kehidupan gue padahal gue ga minta. :(
Memasuki umur gue yang sudah seperempat abad, tentu banyak ketidakpuasan ke diri gue. Ditambah lagi dengan teman baru gue yang selalu menghantui dan mempertanyakan keputusan sekecil apapun yang gue buat yang mungkin akan berdampak di masa depan gue. Perkenalkan teman baru gue, quarter life crisis. Di postingan ini dan beberapa postingan ke depan gue akan bercerita bagaimana si quarter life crisis ini perlahan-lahan masuk ke kehidupan gue padahal gue ga minta. :(
Gue pertama dengar istilah quarter life crisis saat ngobrol sama teman Amerika gue yang beda dua tahun lebih tua sama gue. Pada saat itu gue masih umur 23 dan dia 25. Dia bercerita bagaimana galaunya dia untuk memilih antara pekerjaan dan pendidikan. Dia juga cerita kalau dia galau karena ga punya pacar dan ga punya banyak teman. Pada saat itu, Winda yang masih mahasiswa bodoh yang masih ga tau betapa kejamnya quarter life crisis ini cuma bilang "ya ga usah galau, pertimbangkan mana yang lebih menguntungkan, bikin skala prioritas bla bla bla" dengan sotoy nya. Gue pun penasaran dengan quarter life crisis ini dan merasa ga percaya kenapa seseorang bisa segalau itu padahal tinggal pilih aja mau yang mana. Kemudian dua tahun berjalan dan gue kemakan omongan sendiri. Kzl.
Fase pertama yang gue rasakan adalah gue mulai merasa bahwa kehidupan setelah lulus kuliah itu tidak sebagus yang dibayangkan. Itu adalah momen yang bikin gue "wah zonk banget nih abis lulus ga punya kegiatan yang menghasilkan" sementara kita masih punya idealisme bahwa setelah lulus kita dapet kerja, punya uang sendiri dan melakukan apa yang dulu jadi angan-angan semata, seperti traveling contohnya. Beda dengan peralihan dari SMP ke SMA atau SMA ke kuliah. Saat itu jalur kita udah pasti dan sudah ditentukan. Ibu sempet tanya ke gue waktu masih skripsi, "kamu mau kuliah lagi apa gimana?" kemudian dengan sok tahu gue jawab "kerja dulu lah, capek kuliah mulu". Nah, karena gue anaknya dodol, batu dan gampang bosan sementara Ibu gue orangnya percaya sama anaknya, jadilah gue memilih untuk kerja dulu.
Kerja sudah, lalu apa? Dasar manusia, ga pernah puas.
Fase berikutnya adalah gue mempertanyakan apakah yang gue lakukan tiap hari adalah apa yang gue pikir "ya ini jalannya". Ibarat liriknya Tulus di lagu Mahakarya, gue sedang memberi hati pada setiap kerja keras gue. Gue sedang belajar mensyukuri apa yang gue jalani dan kalau bisa harus benar-benar kerja dengan hati agar berkah. Kalau dilihat, Allah sudah mengabulkan doa gue semasa kuliah. Waktu itu gue berharap bisa kerja di tempat yang ga ada senioritas, yang orang-orangnya shaleh dan saliha, yang tidak mengintimidasi anak baru dan Allah memberikan itu semua. Kemudian niat yang tadinya mau cari tempat baru menghilang karena belum tentu tempat lain dengan gaji besar punya apa yang gue harapkan. Lalu gue berbicara pada diri sendiri kalau kerja, apalagi untuk kerjaan pertama adalah untuk cari pengalaman dan berkah. Rupiah akan mengikuti seberapa serius kita kerja. Oke, lingkungan kerja enak: done.
Gue punya pendapat ketika kita sudah merasa cukup dan senang atas apa yang kita punya, selalu saja ada hal-hal yang bikin kita down. Seperti kita lagi bawa kendaraan di jalan yang bagus, lebar, lurus, aspal hot mix eh tiba-tiba ada kerikil, jalanan berlubang, kubangan dan lain-lain di tengah-tengah perjalanan kita. Ya seperti itu yang sedang gue rasakan.
Diri ini mulai bertanya, "apa sih yang gue kejar? uang? passion? pendidikan? bebas secara finansial? kebahagiaan? bla bla bla". Itulah momen jalan berlubang gue. Gue mulai berpikir kalau hidup perlu direncanakan karena hidup tidak berhenti di dua minggu ke depan. Hidup akan semakin sulit, tantangan akan semakin banyak dan kalau kita tidak siap, kasihan diri kita.
Kemudian untuk mensiasati itu gue membuat semacam perencanaan di kepala ya tapi ujung-ujungnya bikin gue mempertanyakan diri sendiri lagi sih. Kzl.
"Oke baiklah, saat ini posisi gue sudah kerja. Kemudian gue mau menambah kapasitas dan skill gue. Mungkin ambil pasca sarjana adalah jawabannya. Kebetulan gue emang dulu disuruh kuliah lagi. Kerja sambil kuliah? InsyaAllah bisa. Eh kok, kayanya ga bisa deh. Kalau nanti.... Tapi kan..."
Kemudian gue merasa ragu dengan kemampuan diri sendiri. Inilah fase berikutnya. Di satu sisi gue mau bisa jadi lebih sehingga gue bisa memberikan lebih, di satu sisi diri gue merasa payah, ga ada apa-apanya dibandingkan dengan orang lain. Sempat ada up and down tentang keputusan yang sebenarnya gue saja belum memutuskan tapi udah takut duluan. Ada saat di mana gue merasa gue bisa menaklukan dunia, namun di saat yang lain gue mau bangun dari tempat tidur aja susah. Ya seperti itulah fase yang satu ini.
Rasanya gue sudah punya tujuan. Let's say gue mau nanti 20 tahun ke depan gue sudah berkeluarga dan mapan. Kalau dilihat dari career path, gue mesti punya sesuatu yang membuat gue pantas untuk mencapai tujuan itu. Kemampuan gue saat ini rasanya kurang tinggi untuk mencapai tujuan gue itu. Sudah punya tujuan, tinggal menyusun rute mana yang mau diambil. Tapi karena hidup itu rese, keraguan itu datang lagi. Menggoda, mempertanyakan gue lagi apakah gue bisa. Pikiran-pikiran yang tidak penting selalu muncul sepaket dengan saat gue pikir gue bisa.
Gue ga mau 20-30 tahun lagi gue akan menyesal dan minta maaf ke diri sendiri karena tidak mengambil keputusan yang bijak saat gue masih muda, punya tenaga dan punya waktu. Gue ga mau hanya stuck dengan hal yang itu-itu aja, dengan kemampuan dan pengetahuan yang segitu-gitu aja. Gue mau explore diri sendiri, gue mau mematahkan keraguan gue terhadap diri sendiri.
Gila ya, umur 25 udah mikir 30 tahun ke depan. Ya, memang itu seharusnya yang mulai dipikirkan saat kita umur 25. Karena tidak selamanya kita muda dan kuat. Karena yang umur 25 aja udah mulai rematik :(
Semoga Winda ga kemakan omongan/postingannya lagi.
Wassalamualaikum.
Dirimu udah rematik yak.. *comment ngajakin ribut
ReplyDeleteIya. Yang muda yang rematik. Karena tidak perlu tunggu tua untuk rematik :)
Delete